Make your own free website on Tripod.com

Awal Pernikahan, Antara Realitas dan Ilusi

Semasa gadis, Atiqah (bukan nama sebenarnya), sering berharap untuk
menjadi seorang isteri yang taat dan sering mengukir senyuman buat
suaminya. Dia yakin, dengan menjadi isteri yang solehah
dan menggembirakan suami, dia sudah dapat menempati salah satu tempat
di surga. “Tidak perlu susah-susah bagi seorang wanita mencari
surga ALLAH,” begitu yang kerap terlintas dalam hatinya.

Harapan untuk menjadi isteri yang solehah dibina oleh Atiqah setelah
dia menerima kesadaran Islam dan ketika pemahamannya
mengenai Islam semakin jelas. Padahal sewaktu remaja, dan ketika
agama hanya dilihat sekadar amalan rutin seperti yang
ditekankan oleh sekolah dan keluarganya, dia tidak pernah mempunyai
harapan dan impian begitu. Malah dia merasa agak janggal apabila
memikirkan surga dan neraka ALLAH.

Berkat berteman dengan mereka yang berminat mendalami agama,
Atiqah sering mengikuti pengajian. Dalam bacaannya, dia menemukan
banyak tema tentang perkawinan. Dia juga banyak menemukan
ayat Al-Quran yang menganjurkan berumahtangga. Dia pun ingin menjadi
sebaik-baik perhiasan sebagaimana kata hadits, dunia adalah
perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri solehah.
Atiqah juga begitu senang dengan hadis yang pernah disebut
Rasulullah, yaitu "Jika manusia boleh menyembah manusia
selainNYA, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya."
(HR Abu Dawud, Tirmidzi,Ibnu Majah dan Ibnu Hibbin)

Berkat keinginan yang tinggi untuk menjadi isteri yang solehah
sebagaimana dicontohkan oleh isteri-isteri Rasulullah, maka ALLAH
akhirnya menemukan jodoh Atiqah dengan Mustafa (bukan nama
sebenarnya). Mustafa, seorang jejaka yang tidak kurang solehnya.
Akhirnya kedua-dua mereka melangkah ke gerbang pernikahan.
Maka menagislah syaitan ketika kedua anak Adam diijabkabulkan.

Seperti Atiqah, Mustafa yang mengenali Islam sejak berada
di kampus, sering bercita-cita untuk membentuk rumahtangga.
Pilihannya, pasti seorang wanita solehah yang menyejukkan hati dan mata.

Dia pernah membayangkan, alangkah bahagianya menjadi seorang suami yang
kuat pribadinya dan mampu membimbing orang lain, terutama isteri dan
anak-anaknya. Dia teringat akan pesan Rasulullah, bahwa "hanya
lelaki yang mulia saja yang akan memuliakan wanita."
Mustafa pernah bercita-cita mengikuti Rasulullah yang begitu sayang
dan lemah lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah diri apabila
membantu isteri melakukan pekerjaan rumah.

Rumahtangga Mustafa-Atiqah terus berlalu; hari demi hari, minggu
demi minggu dan bulan demi bulan...

Biarpun harapan dan cita-cita menghidupkan rumahtangga Muslim
terus hidup, namun kenyataan pun harus mereka hadapi juga.
Perbedaan kepribadian, perasaan, pembawaan, selera dan kegemaran yang
selama ini terbina dari latar belakang keluarga dan pendidikan
yang berbeda, ternyata tidak mudah untuk disatukan.

Jika sebelum perkawinan semua itu dikatakan mudah diselesaikan melalui
pemahaman agama, ternyata lambat laun ada juga perselisihan.
Perselisihan memang tidak dapat dielakkan dalam rumahtangga.
Apalagi jika pasangan suami isteri tidak menyedari bahawa syaitan
sentiasa berusaha untuk menjahanamkan anak Adam.

Dalam kisah Mustafa dan Atiqah, ternyata segala yang dibayangkan
tidaklah seindah realitasnya. Mencontoh rumahtangga Rasulullah
memang satu tuntutan. Namun sebagai seorang Islam, tantangan dan
cobaan adalah peluang untuk mempertingkatkan diri dan semakin
bergantung kepada ALLAH. Berbagai masalah dalam perkawinan dan
rumahtangga harus dihadapi secara sabar dan realistik oleh
pasangan suami isteri yang inginkan naungan ALLAH.

Ada isteri yang mengeluh karena cara suami menegur, dikatakan
kasar dan memalukan. Ada pula suami mengeluh karena sikap isteri
yang kurang cakap mengurus keluarga. Maklum saja, ada dikalangan isteri
sebelumnya sibuk belajar dan berorganisasi sehingga sangat jarang
ikut mengurus masalah dapur.

Mustafa pun mulai mengeluh.Ternyata isterinya tidak seperti
dia impikan. Malah Atiqah juga mengeluh terhadap Mustafa
karena dianggapnya terlalu dimanjakan oleh orang tuanya dahulu.
Apalagi Mustafa terlalu berhati-hati berbelanja.

Atiqah juga mulai merasakan penyesalan di hati akibat tidak mau
bekerja setelah kuliah, karena niat untuk menumpahkan perhatian
sepenuhnya kepada suami dan rumahtangga, dan mencapai impian menjadi
wanita solehah.

Kadang-kadang semangat seorang Muslimah solehah untuk keluar
rumah mencari kesibukan di luar tidak diimbangi dengan
peranannya dalam rumahtangga. Hal ini menyebabkan suami mengeluh
karena dibebani dengan tugas-tugas rumahtangga. Ada juga di kalangan
isteri terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, dan
sering lupa untuk melihat kebaikan dan kelebihan suaminya.

Ada suami yang sikapnya dingin, tidak pandai memuji dan bercanda
dengan isterinya. Apabila melihat kebaikan pada isterinya dia diam
saja, tetapi apabila melihat kelemahan, segera diungkit.
Memang, banyak cobaan pada pasangan suami isteri dalam rumahtangga.
Tidak semua yang indah-indah seperti diimpikan sebelum berumahtangga
menjadi kenyataan. Sudah menjadi sunnah kehidupan, bahwa akan
berlaku pergeseran kecil dan perbedaan, sepanjang menjadi suami isteri.
Itu namanya asam garam berumahtangga.

Pasangan seperti Mustafa dan Atiqah mempunyai kelebihan menghadapi
cobaan berumahtangga, karena mereka berbekal pemahaman agama dan rasa
ketergantungan yang tinggi kepada ALLAH. Dengan kata lain,
mereka mempunyai pemikiran yang mungkin tidak dirasai oleh
pasangan yang jauh diri dari Islam.

Adakalanya kita memerlukan bantuan pihak ketiga dalam menyelesaikan
masalah rumahtangga kita, kerana "kaca-mata" yang kita pakai
sudah begitu kelabu sehingga gagal melihat semua kebaikan pasangan
hidup kita. Mungkin pihak ketiga bisa membantu mencuci atau
memperbaharui kacamata kita supaya pandangan kita kembali jelas
dan wajar.

Pasangan yang bijak dan tinggi pemahaman agamanya, akan mampu
untuk istiqamah dalam menjaga perkawinan mereka dan
lebih mampu menghadapi badai melanda. Adalah penting sebelum
kita mendirikan rumahtangga, mempunyai suatu tanggapan
bahwa kita (bakal suami isteri) berjanji akan melengkapi antara satu
sama lain, karena manusia bukanlah makhluk sempurna.
Manusia tidak mungkin dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna
seperti bidadari atau malaikat.

Kita harus siap menerima pasangan hidup seadanya, termasuk segala
kekurangannya, selama tidak melanggar syariat. Kita memang berasal
dari latar belakang keluarga, kebiasaan dan watak yang
berbeda, yang membentuk watakan dan persepsi hidup tersendiri.
Apabila kita menerima keadaan ini, insya ALLAH kita akan
berhasil menghindar dari menikah dalam illusi kita pada hari kita
diijabkabulkan, tetapi sebaliknya kita sudah menikah dalam
realitas kita.

Setiap pasangan Muslim, tidak boleh menjadikan rumahtangga sebagai
tujuan. Ingat, ia hanya alat untuk kita meningkatkan
diri dan ketakwaan kepada ALLAH. Menikah berarti kita mampu
mengawal nafsu daripada langkah yang salah. Dan setiap
persetubuhan bagi suami isteri untuk menghindar dari maksiat,
akan mendapat pahala dari ALLAH swt. Betapa indahnya Islam. (na)